PURBA-MANALU-SIMAMORA DEBATA RAJA - MANANDA ULOS BAGIAN I
JUM'AT, 2016-12-02, 10:53 PM
PURBA - MANALU - SIMAMORA DEBATA RAJA <FORUM-LAPO>
Horas Guest | RSS

Beta Hamu Tu Lapo
Angka Na Masa
Bohado Appara?
Nilai Jo Lapo On
Total Jawaban: 63
IKLAN FULL
iklanfull.com
Website Ni Dongan
  • Manonton TV Online Pere
  • Service Computer
  • Teks Ni Pilem Tong Pere
  • Website ni napuna Lapo
  • All HTML Tags
  • Browser Kits
  • Dongan Tubu Na Ro
    PANJAGA LAPO
    Status YM
    Beta Marsihepeng
    Adsense Indonesia

    MENGENAL ULOS BAGIAN I

    U
    los
    (lembar kain tenunan khas tradisional Batak) pada hakikatnya adalah hasil peradaban masyarakat Batak pada kurun waktu tertentu. Menurut catatan beberapa ahli ulos (baca: tekstil) sudah dikenal masyarakat Batak pada abad ke-14 sejalan dengan masuknya alat tenun tangan dari India.Ulos pada hakikatnya adalah hasil sebuah tingkat peradaban dalam suatu kurun sejarah.

    Ulos pada awalnya adalah pakaian sehari-hari masyarakat Batak sebelum datangnya pengaruh Barat. Bila dipakai laki-laki bagian atasnya disebut "hande-hande” sedang bagian bawah disebut "singkot” kemudian bagian penutup kepala disebut "tali-tali” atau "detar”.
    Bia dipakai perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut "haen”, untuk penutup pungung disebut "hoba-hoba” dan bila dipakai berupa selendang disebut "ampe-ampe” dan yang dipakai sebagai penutup kepala disebut "saong”.
    Apabila seorang wanita sedang menggendong anak, penutup punggung disebut "hohop-hohop” sedangkan untuk menggendong disebut’ "parompa”.
    Sampai sekarang tradisi berpakaian cara ini masih bias kita lihat didaerah pedalaman Tapanuli.
    Tidak semua ulos Batak dapat dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ulos jugia, ragi hidup, ragi hotang dan runjat. Biasanya adalah simpanan d
    an hany
    a dipakai pada wak
    tu tertentu saja.

    Secara spesifik pada masa pra-kekeristenan ulos atau tekstil sehari-hari itu dijadikan medium (perantara) pemberian berkat (pasu-pasu) dari mertua kepada menantu/ anak perempuan, kakek/nenek kepada cucu, paman (tulang) kepada bere, raja kepada rakyat. Sambil menyampaikan ulos pihak yang dihormati ini menyampaikan kata-kata berupa berkat (umpasa) dan pesan (tona) untuk menghangatkan jiwa si penerima. Ulos sebagai simbol kehangatan ini bermakna sangat kuat, mengingat kondisi Tanah Batak yang dingin. Dua lagi simbol kehangatan adalah: matahari dan api.

    Bagi nenek-moyang Batak yang pra-Kristen selain ulos, yang memang penting juga kata-kata (berkat atau pesan) yang ingin disampaikan melalui medium ulos itu. Kita juga mencatat secara kreatif nenek-moyang Batak juga menciptakan istilah ulos na so ra buruk (ulos yang tidak bisa lapuk), yaitu tanah a
    tau sawah. Pada keadaan tertentu hula-hula dapat juga memberi sebidang tanah atau ulos yang tidak dapat lapuk itu kepada borunya. Selain itu juga dikenal istilah ulos na tinonun sadari (ulos yang ditenun dalam sehari) yaitu uang yang fungsinya dianggap sama dengan ulos.

    Ulos yang panjangnya bisa mencapai kurang lebih 2 meter dengan lebar 70 cm (biasanya disambung agar dapat dipergunakan untuk melilit tubuh) ditenun dengan tangan. Waktu menenunnya bisa berminggu-minggu atau berbulan-bulan tergantung tingkat kerumitan motif. Biasanya para peremp
    uan menenun ulos itu di bawah kolong rumah. Sebagaimana kebiasaan jaman dahulu mungkin saja para penenun memiliki ketentuan khusus menenun yang terkait dengan kepercayaan lama mereka. Itu tidak mengherankan kita, sebab bukan cuma menenun yang terkait dengan agama asli Batak, namun seluruh even atau kegiatan hidup Batak pada jaman itu. (Yaitu: membangun rumah, membuat perahu, menanam padi, berdagang, memungut rota
    n, atau mengambil nira). 


    Proses pembuatan ulos batak

    Bagi awam dirasa sangat unik. Bahan dasar ulos pada umumnya adalah sama yaitu sejenis benang yang dipintal dari kapas. Yang membedakan sebuah ulos adalah proses pembuatannya. Ini merupakan ukuran penentuan nilai sebuah ulos.

    Untuk memberi warna dasar benang ulos, sejenis tumbuhan nila (salaon) dimasukkan kedalam sebuah periuk tanah yang telah diisi air. Tumbuhan ini direndam (digon-gon) berhari-hari hingga gatahnya keluar, lalu diperas dan ampasnya dibuang. Hasilnya ialah cairan berwarna hitam kebiru-biruan yang disebut "itom”.

    Periuk tanah (palabuan) diisi dengan air hujan yang tertampung pada lekuk batu (aek ni nanturge) dicampur dengan air kapur secukupnya. Kemudian cairan yang berwarna hitam kebiru-biruan tadi dimasukkan, lalu diaduk hingga larut. Ini disebut "manggaru”. Kedalaman cairan inilah benang dicelupkan.
    Sebelum dicelupkan, benang terlebih dahulu dililit dengan benang lain pada bahagian-bahagian tertentu menurut warna yang diingini, setelah itu proses pencelupan dimulai secara berulang-ulang. Proses ini memakan waktu yang sangat lama bahkan berbulan-bulan dan ada kalahnya ada yang sampai bertahun.

    Setelah warna yang diharapkan tercapai, benang tadi kemudian disepuh dengan air lumpur yang dicampur dengan air abu, lalu dimasak hingga mendidih sampai benang tadi kelihatan mengkilat. Ini disebut  "mar-sigira”. Biasanya dilakukan pada waktu pagi ditepi kali atau dipinggiran sungai/danau.

    Bilamana warna yang diharapkan sudah cukup matang, lilitan benang kemudian dibuka untuk "diunggas” agar benang menjadi kuat. Benang direndam kedalam periuk yang berisi nasi hingga meresap keseluruh benang. Selesai diunggas, benang dikeringkan. Benang yang sudah kering digulung (dihulhul) setiap jenis warna. Setelah benang sudah lengkap dalam gulungan setiap jenis warna yang dibutuhkan pekerjaan selanjutnya adalah "mangani”. Benang yang sudah selesai diani inilah yang kemudian masuk proses penenunan. Bila kita memperhatikan ulos Batak secara teliti, akan kelihatan bahwa cara pembuatannya yang tergolong primitif bernilai seni yang sangat tinggi.

    Seperti telah diutarakan diatas, ulos Batak mempunyai bahan baku yang sama. Yang membedakan adalah poses pembuatannya mempunyai tingkatan tertentu. Misalnya bagi anak dara, yang sedang belajar bertenun hanya diperkenankan membuat ulos "parompa” ini disebut "mallage” (ulos yang dipakai untuk menggendong anak). Tingkatan ini diukur dari jumlah lidi yang dipakai untuk memberi warna motif yang diinginkan. Tingkatan yang tinggi ialah bila dia telah mampu mempergunakan tujuh buah lidi atau disebut "marsipitu lili”. Yang bersangkutan telah dianggap cukup mampu bertenun segala jenis ulos Batak.

    Lului
    Pesbuk Ni Parlapo
    Parlapo Toga Simamora

    Buat Lencana Anda
    Kalender
    «  DESEMBER 2016  »
    MGGSESELRABKMSJUSAB
        123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
    Angga Nung Leleng
    Parjambaron
    BARITA LASNIROHA [1]
    ANGKA BARITA LASNIROHA
    Parlampet Lewat
    Video YouTUBE
    Copyright Romesco-Purba© 2016